Sabtu, 26 Agustus 2017

HARUS BACA!!! Inilah Balasan Untuk Orang Yang Menawar Barang Terlalu Sadis, Inilah Akibatnya...



- Bagi perempuan, menawar barang dengan harga murah biasanya selalu dibanggakan. Tapi, taukah bila menawar harga kepada pedagang dengan harga yang tak masuk logika malah jadi perbuatan yang semena-mena.

Ada sebuah pola kisah seorang istri yang membanggakan kelihaiannya untuk menawar barang. Tapi kali ini, suami marah besar saat sang istri mampu menawar harga yang sangat murah. Kenapa? Ini kisahnya:

Sebagai istri saya tentu ingin disayang suami. Belajar masak, rajin bersih-bersih rumah, berlaku lembut penuh cinta kepada suami, dan berusaha hemat dalam penggunaan uang belanja semoga disebut istri cerdas dan yang tersayang.

Setiap kali belanja kemanapun, saya pasti ngotot berusaha menawar dagangan dengan harga semurah mungkin. Diskon seribu dua ribu saya kejar, padahal energi yang dikeluarkan untuk tawar-menawar panjang mampu lebih dari itu.

Tapi demi disayang suami, saya tetep ngotot. Tak jarang suami yang mengantar mulai tidak tabah dan geleng-geleng kepala. Saya sih masbodoh saja, istri pelitnya ini selalu beralasan sama, kan semoga hemat.
Suatu sore setelah lelah keliling pasar, di perjalanan menuju parkiran kendaraan beroda empat seorang pedagang tanaman bunga yang berusia sepuh menyampaikan dagangannya:

Pedagang: “Neng, beli neng dagangan bapak, bibit bunga mawar 5 pot cuma 25.000 per pot”

Tadinya saya cuek, tapi tiba-tiba teringat pekarangan mungil di rumah yang kosong, wah murah nih pikir saya, cuma 25.000/pot, tapi ah pasti mampu ditawar.

Saya: “Ah mahal banget pak 25.000, udah 10.000 per pot,” dengan gaya masbodoh saya menawar sadis.

Pedagang : “Jangan neng, ini bibit bagus. Bapak jual udah murah, 15.000 aja gimana neng bapak udah sore mau pulang".

Saya ragu sejenak, memang murah sih. Di toko, bibit bunga mawar paling tidak 45.000 harga per pot. Tapi bukan saya dong kalau tidak berjuang.

Saya: “Halaaah udah pak, 10.000 ribu aja kalau gak dikasih ya gak apa-apa,” saya berlagak hendak pergi.

Pedagang : “Eh neng…,” beliau ragu sejenak dan menghela nafas. “Ya sudah neng gak apa-apa 10.000, tapi neng ambil semuanya ya, bapak mau pulang udah sore.”

Saya: (Saya bersorak dalam hati. Yeee…menang) “Oke, jadi 50.000 ribu ya utk 5 pot. Bawain sekalian yaaa.. ke kendaraan beroda empat saya, tuh yang di ujung parkiran.”

Saya pun melenggang pergi menyusul suami yang sudah duluan. Si Pedagang mengikuti di belakang. Sesampainya di parkiran, si Pedagang membantu menaruh pot-pot tadi ke dalam mobil, saya membayar 50.000 lalu si Pedagang tadi pergi.

Lalu terjadilah percakapan berikut dengan suami,

Saya: “Bagus kan yaaang, saya dapet 5 pot bibit bunga mawar harga murah.”

Suami: “Oohh..berapa kau bayar ?”

Saya: “50ribu.”

Suami: “Hah…!!! Itu semua 5 pot ?” beliau kaget

Saya: “Iya dong… jago kan saya nawarnya ?

Tadi Dia nawarinnya 25.000 1 pot".
Saya tersenyum lebar dan bangga.

Suami: “Gila kamu, sadis amat. Pokoknya saya gak mau tahu. Kamu susul itu si Pedagang itu sekarang, kau bayar beliau 125.000 tambah upah bawain ke kendaraan beroda empat 25.000 lagi. Nih, kau kejar kau kasi beliau 150.000 !!!”

Suami membentak keras dan marah, saya kaget dan bingung.
Saya: “Tapi…kenapa..?”

Suami: (Makin kencang ngomongnya) “Cepetan susul sana, tunggu apa lagi !!!.”

Tidak ingin dibentak lagi, saya pribadi turun dari kendaraan beroda empat dan berlari mengejar si Pedagang tua. Saya lihat beliau hendak naik angkot di pinggir jalan.

Saya: “Pak……tunggu pak…”

Paman : “Eh, neng kenapa?”

Saya: “Pak, ini uang 150.000 pak dari suami saya katanya buat bapak, bapak terima ya, saya gak mau dibentak suami, saya takut.”

Pedagang: “Lho, neng kan tadi udah bayar 50.000, bener kok uangnya,” si Pedagang keheranan.

Saya: “udah pak terima aja. Ini dari suami saya. Katanya harga bunga bapak pantesnya dihargain segini".Sambil saya serahkan uang 150.000 ke tangannya.

Pedagang (Tiba-tiba menangis dan berkata): “Ya Allah… makasih banyak neng… ini tanggapan do'a bapak dari pagi, seharian dagangan bapak gak ada yang beli, yang noleh pun nggak ada. Anak istri bapak lagi sakit di rumah gak ada uang buat berobat. Pas neng nawar bapak pikir gak apa-apa harga segitu asal ada uang buat beli beras aja buat makan. Ini bapak mau buru-buru pulang kasian mereka nunggu. Makasih ya neng… suami neng orang baik. Neng juga baik jadi istri nurut sama suami, Alhamdulillah yaaa Allah... neng maaf, bapak mau buru buru pulang…,” dan si bapak pun berlalu.
Saya: (speechless dan kembali ke mobil).

Sepanjang perjalanan saya membisu dan menangis, benar kata suami, tidak pantas menghargai jerih payah orang dengan harga semurah mungkin hanya sebab kita pelit. Berapa banyak perjuangan si bapak hingga bibit itu siap dijual, tidak terpikirkan oleh saya.

Sejak itu, saya berubah dan tak pernah lagi menawar sadis kepada pedagang kecil manapun. Percaya saja bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan.

Ribuan orang menangis membaca kisah ini, pengingat untuk kita yang kadang tidak adil dalam memperlakukan orang lain semena-mena. Semoga tidak terjadi pada anda..... Jika itu terjadi, dapat menjadi materi pertimbangan.

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (At-Taghobun:11).


sumber : bagikanya

Sumber http://viralterkini.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar